Tarutung (Humas)– Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Utara, Tigor Sianturi, MM., membuka secara resmi kegiatan Pelibatan Masyarakat pada Gerakan Keluarga Maslahat (Program Literasi Keuangan Keluarga) pada Kamis (25/9) di Aula Kemenag Taput. Kegiatan ini turut didampingi oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Muhammad Nazar Luthfi Tambunan, S.Pd.I., dan Penyuluh Agama Islam, Roida Royani Gultom, S.Ag. sebagai narasumber.
Kegiatan ini diikuti oleh 15 orang peserta yang mewakili berbagai organisasi masyarakat Islam di Tapanuli Utara, seperti MUI, Salimah, NU, Muhammadiyah, BKMT Taput, KPRK MUI, dan Al Washliyah. Kehadiran ormas-ormas ini menjadi bukti nyata pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun keluarga maslahat.
Dalam sambutannya, Kakankemenag Taput menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan landasan penting bagi masyarakat dalam memperkuat ketahanan keluarga sebagai basis utama pembangunan bangsa. Menurutnya, ormas Islam memiliki peran strategis dalam mewujudkan keluarga yang maslahat, yakni keluarga yang kokoh, harmonis, dan memberi manfaat bagi agama, bangsa, serta masyarakat. Ia menegaskan bahwa jaringan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat yang dimiliki oleh ormas Islam dapat menjadi motor penggerak dalam menanamkan nilai-nilai agama yang mendasari ketahanan keluarga. Tigor juga mengajak para tokoh agama untuk hadir sebagai penengah ketika terjadi konflik, sekaligus menyebarkan nilai-nilai keluarga maslahat di tengah masyarakat.
Selanjutnya, Kasi Bimas Islam, menjelaskan secara lebih mendalam mengenai Gerakan Keluarga Maslahat (GKM). Ia menerangkan bahwa gerakan ini diluncurkan oleh Kementerian Agama RI dengan tujuan memperkuat ketahanan keluarga sebagai unit terkecil masyarakat yang menentukan arah moral, sosial, dan spiritual kehidupan bangsa. Menurutnya, gerakan ini memiliki landasan hukum yang kuat, mulai dari Undang-Undang Perkawinan, Instruksi Presiden tentang pembangunan berbasis keluarga, RPJMN, hingga Peraturan dan Keputusan Menteri Agama yang menegaskan pentingnya pembangunan manusia berbasis keluarga.
Dalam paparannya, Kasi Bimas Islam menekankan bahwa Gerakan Keluarga Maslahat bertujuan untuk mewujudkan keluarga yang beriman, harmonis, rukun, dan sejahtera. Gerakan ini diharapkan dapat menekan angka perceraian, mencegah pernikahan usia dini, mengurangi kekerasan dalam rumah tangga, serta menanamkan nilai moderasi beragama di tengah keluarga sebagai benteng dari paham radikalisme. Selain itu, gerakan ini juga menguatkan peran KUA dan penyuluh agama sebagai pendamping masyarakat dalam membangun keluarga yang maslahat.
Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa ruang lingkup GKM sangat luas. Program ini mencakup bimbingan perkawinan bagi calon pengantin, edukasi tentang kesehatan reproduksi, kesiapan psikologis, ekonomi, dan spiritual. Setelah pernikahan, pasangan muda juga akan mendapatkan pendampingan pada lima tahun pertama rumah tangga melalui pendidikan parenting Islami dan pencegahan kekerasan dalam keluarga. Gerakan ini juga menguatkan nilai moderasi beragama dengan menanamkan sikap toleransi, gotong royong, dan penghargaan terhadap keberagaman, serta mengkampanyekan gerakan anti-radikalisme di lingkungan keluarga.
Lebih jauh lagi, program ini mendorong pemberdayaan ekonomi keluarga melalui literasi keuangan syariah, pelatihan usaha mikro, serta gerakan zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif. Tidak hanya itu, aspek kesehatan dan kesejahteraan juga menjadi perhatian, dengan penekanan pada pentingnya menjaga pola hidup sehat, mengonsumsi makanan halal, serta menjadikan doa yang disertai amal sebagai teladan nyata bagi anak-anak. “Doa yang dibarengi dengan amal insyaAllah akan menjadi teladan bagi anak-anak. Dengan pola hidup islami dan makanan halal, keluarga akan tumbuh menjadi kuat, maslahat, dan menjadi benteng moral di tengah masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Penyuluh Agama Islam, Roida Royani Gultom, S.Ag sebagai narasumber turut memberikan penekanan pada pentingnya literasi keuangan dalam keluarga. Menurutnya, kemampuan keluarga dalam mengatur keuangan menjadi fondasi penting bagi kemandirian dan kesejahteraan. Ia juga menyoroti pentingnya pembinaan remaja agar sejak dini mereka memahami nilai-nilai perencanaan keluarga yang sehat, sehingga kelak tumbuh menjadi generasi muda yang cerdas, sehat, dan berakhlak mulia.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang kuat dalam memperluas implementasi Gerakan Keluarga Maslahat di Tapanuli Utara. Dengan adanya dukungan dari pemerintah, ormas Islam, serta masyarakat, program ini diharapkan mampu mengurangi angka perceraian, pernikahan usia dini, dan konflik dalam rumah tangga. Lebih dari itu, gerakan ini diyakini akan melahirkan keluarga-keluarga yang harmonis, berdaya, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. (TN)













